Old man, my ass!
– Kalimat ini saya dapat dari sebuah film action yang dibintangi oleh orang-orang tua dunia perfilman: Red. Bruce Willis, Morgan Freeman, John Malkovich, dan Helen Mirren berkumpul dalam film aksi ini. Seru, lucu, dan full action. Don’t miss it!These Movies Are Suck!
Pertengahan tahun 2010 telah terlewati. Banyak yang puas, banyak pula yang mencibir. Menurut beberapa pengamat film dan penonton, kualitas film-film musim panas 2010 cukup mengecewakan. Beberapa film besar yang diharapkan dapat meraup untung malah melempem di tangga box office, antara lain Prince of Persia atau Sorcerer’s Apprentice. Hal ini membuktikan bahwa bujet besar dan nama terkenal tidak selalu dapat menjamin kesuksesan sebuah film. Skenario, plot, dan akting juga turut menentukan.
Setelah dihujani film-film ringan (kecuali Inception) yang penuh ledakan dan efek, kali ini kita bolehlah menarik napas sejenak sebelum menyambut film-film kelas Oscar (khusus yang ini, siapkan otak kita untuk menyaksikan film-film berkualitas tanpa spesial efek dan cerita berbobot) dan film-film akhir tahun yang tidak kalah dahsyatnya dengan film musim panas, antara lain Harry Potter and the Deathly Hallows, Chronicles of Narnia: Voyage of the Dawn Treader, Legends of the Guardians: The Owls of Ga’Hoole, Mega Mind, dan Tron: Legacy.
Di tahun 2011 sendiri, sudah masuk daftar judul-judul film pilihan untuk meramaikan musim panas maupun akhir tahun. Bisa dibilang, 2011 nanti adalah tahun para superhero. Terdapat empat superhero yang akan saling bertarung untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, tiga dari Marvel dan satu dari DC. Superhero tersebut adalah Green Lantern, Thor, Captain America, dan X-Men. Siapakah yang akan menang? Kita tunggu saja sampai gong pertarungan dimulai.
1. Thor (6 Mei 2011)
Kenneth Branagh menyutradarai film superhero? Mungkin itu adalah berita yang akan membuat kening semua orang berkerut. Bagaimana tidak, aktor ini sudah terkenal melalui peran-perannya dan keahliannya dalam mengadaptasi lakon-lakon Shakespeare. Selain itu, perannya yang paling kita ingat adalah sebagai profesor licik, Gilderoy Lockhart, dalam Harry Potter and the Chamber of Secret. Thor sendiri nantinya akan dipegang oleh aktor muda kurang terkenal, Chris Hemsworth. Berhasilkah film superhero Marvel ini? Kita tunggu saja.
2. Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides (20 Mei 2011)
Uang memang dapat mengatur apa saja, termasuk film yang diplot hanya untuk menjadi trilogi dapat dikembangkan bila uang sudah berbicara. Hal ini terjadi pada franchise film Kapten Jack Sparrow ini. Sayangnya, tidak semua orang lama kembali hadir. Sutradara Gore Verbinski tidak akan kembali, ia akan digantikan oleh Rob Marshall (Chicago, Nine). Sementara itu, Keira Knightley juga dipastikan tidak akan melanjutkan perannya di sini. Sebagai gantinya, si cantik Penelope Cruz. Percaya atau tidak, untuk perannya kali ini, Johnny Depp mendapatkan bayaran 55,5 juta dolar. Fantastis!
3. Kungfu Panda: The Doom of Kaboom (26 Mei 2011)
Si panda tambun yang jago kungfu ini kembali lagi! Setelah filmnya di tahun 2008 berhasil menuai banyak pujian dan mendapatkan 645 juta dolar lebih, dibuatlah sekuelnya masih dengan pengisi suara yang sama dengan film pertamanya. Seperti film-film animasi atau nonanimasi akhir-akhir ini, Kungfu Panda 2 pun akan menggunakan efek 3-D untuk lebih menambah pundi-pundi uangnya. Berhasilkah mereka? yang pasti film ini jangan sampai dilewatkan dari daftar wajib tonton Anda.
4. X-Men: First Class (3 Juni 2011)
Setelah kematian Cyclops, Jean Grey, dan Professor X dalam film X-Men: The Last Stand, para produser nampaknya belum mau menyerah. Mengingat trilogi film ini (plus X-Men Origins: Wolverine) yang menghasilkan keuntungan besar, mereka memutuskan untuk me-reboot secara halus kisah ini. Film ini akan berkisah tentang asal mula perseteruan antara kubu X-Men dengan Brotherhood of the Mutant. Tidak hanya itu, kehidupan tokoh-tokoh X-Men generasi pertama juga akan diceritakan, khususnya ketika mereka baru masuk ke sekolah mutan milik Professor X.
5. Fast Five (10 Juni 2011)
Keputusan untuk meneruskan franchise kebut-kebutan Fast & Furious cukup berhasil, terlepas dari film ketiganya yang dicerca kritikus. Film keempat yang kembali menghadirkan empat tokoh sentral (seperti dalam film pertama) dinilai sebagai film yang baik karena tidak hanya mengandalkan aksi semata, tetapi juga didukung dengan plot yang lumayan. Perolehan di atas 100 juta dolar tersebut membuat Universal meneruskan sekuelnya yang berjudul Fast Five. Dengan tambahan bujet dan pemain baru (Dwayne Johnson dan Charisma Carpenter) diharapkan dapat lebih menjaring banyak penonton.
6. Green Lantern (17 Juni 2011)
Superhero ini adalah satu-satunya wakil DC Comics yang akan melawan dominasi Marvel pada musim panas nanti. Dengan bintang Ryan Reynolds dan Blake Lively, Green Lantern diharapkan dapat menjadi ujung tombak DC di tahun 2011. Sebelumnya, DC pernah gagal melalui Superman Returns-nya, tapi berhasil memukul telak Marvel melalui Batman Begins dan The Dark Knight. Bujetnya tergolong besar, khas film superhero dan musim panas, yaitu 150 juta dolar. Mari kita berdoa semoga uang sebesar ini tidak sia-sia.
7. Cars 2 (24 Juni 2011)
Film tentang mobil yang memiliki mata dan hati ini akan diteruskan dalam sekuelnya Cars 2. Film pertamanya sendiri berhasil meraup 461 juta dolar dan memenangkan Golden Globe dan Oscar untuk kategori Best Animated Feature. Masih dengan pengisi suara yang sama, Owen Wilson sebagai Lightning McQueen, Cars 2 akan mengangkat kisah tentang balapan mobil yang diselenggarakan di lima negara, yaitu Jepang, Jerman, Italia, Perancis, dan Inggris. Apakah Disney-Pixar dapat kembali menancapkan dominasinya di bidang animasi?
8. Transformers 3 (1 Juli 2011)
Mundurnya Megan Fox karena perseteruannya dengan Michael Bay tidak menyebabkan franchise Transformers terhenti. Bay langsung menggaet bintang muda Rosie Huntington-Whiteley sebagai pengganti Fox. Masih mengandalkan muka-muka lama seperti Shia LaBeouf, Josh Duhammel, dan Tyrese Gibson, Bay mengharapkan pertarungan antara Autobots dan Decepticon ini juga dapat memukul hancur musuh-musuhnya di musim panas nanti.
9. Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 (15 Juli 2011)
Inilah film terakhir dari saga Harry Potter. Hanya berselang 7 bulan dari Part 1-nya, mengingatkan kita pada New Moon dan Eclipse yang rilis dengan jarak berdekatan. Sudah dapat dipastikan, tidak ada film-film yang nekat rilis bersamaan dengan film ini karena takut terlibas dengan keperkasaannya. Masih dengan sutradara yang sama dengan film ke-5 dan ke-6, David Yates, film ini dapat dikatakan sudah memesan satu tempat di tangga box office sebagai salah satu film laris di tahun 2010.
10. The First Avenger: Captain America (22 Juli 2011)
Seperti Ryan Reynolds yang berhasil memerankan dua superhero, Chris Evans pun tidak mau kalah. Setelah penampilannya di Fantastic Four sebagai Human Torch, ia kembali lagi menggunakan kostum kepahlawanan sebagai Captain America. Film ini merupakan salah satu bagian dari proyek ambisius Marvel Studios, The Avengers. Peran ini berhasil ia dapatkan setelah menyingkirkan para pesaingnya, antara lain Channing Tatum, Chace Crawford, Ryan Phillipe, dan Kellan Luntz.
11. The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 (11 November 2011)
Setelah memastikan bahwa film terakhir Harry Potter akan rilis pada pertengahan tahun, seri Twilight Saga memutuskan untuk mengembalikan jadwal rilis filmnya ke posisi semula, yaitu akhir tahun. Dengan mengambil formula yang sama seperti Harry Potter, film ini dipecah menjadi dua bagian. Dapat dimengerti karena bukunya yang terdiri dari 756 halaman tidak mungkin dapat diselesaikan dalam satu film. Bukunya sendiri terbagi menjadi tiga fase, yaitu pernikahan Bella-Edward, kehamilan Bella, dan pertarungan klan Cullen dengan Volturi.
Lalu, bagian mana dari film-film di atas yang suck (payah)? Sayangnya, tidak ada. Tapi yang pasti, film-film ini akan menghisap (suck) uang kita untuk menonton film-film unggulan ini di bioskop. So people, are you ready for 2011 summer movies??
Meet the new Peter Parker: Andrew Garfield

Ladies and gentleman, meet the new Peter Parker: Andrew Garfield. Cowok berumur 27 tahun ini akan menggantikan Tobey Maguire dalam Spiderman reboot yang direncanakan akan dikeluarkan oleh Sony Pictures pada 3 Juli 2012 dalam format 3-D. Cowok yang lahir pada tanggal 20 Agustus 1983 di Los Angeles, California, ini pernah bermain di beberapa film, seperti The Imaginarium of Dr. Parnassus, The Other Boleyn Girl, dan Lions for Lambs. Garfield berhasil mengalahkan para pesaingnya, antara lain Jamie Bell, Michael Angarano, Josh Hutcherson, dan Logan Lerman
Film Spiderman reboot ini akan disutradarai oleh Marc Webb yang terkenal melalui proyek indie-nya (500) Days of Summer. Webb menjadi pengganti Sam Raimi yang menarik diri dari perencanaan film Spiderman 4 karena tidak yakin sanggup menepati jadwal rilis yang dikehendaki produser, yaitu 6 Mei 2011. Selain itu, Tobey Maguire sendiri memutuskan untuk tidak mengulang kembali perannya di Spiderman 4. Dengan pengunduran diri Webb dan tidak kembalinya Maguire, Sony tidak mau mengambil risiko sehingga memutuskan untuk membatalkan Spiderman 4.

Belum ketahuan sosok musuh yang akan menjadi lawan Spiderman kali ini, tapi Christoph Waltz (Inglorious Basterds) dirumorkan akan memegang peran tersebut. Awalnya, Michael Fassbender (300) merupakan kandidat terkuat pemeran penjahat. Akan tetapi, dia memutuskan mundur demi perannya sebagai Magneto dalam X-Men: First Class. Waltz-lah yang masuk untuk menggantikan Fassbender.
Penasaran?? Kita tunggu saja berita-berita terbaru lainnya tentang Spiderman reboot ini.
Regards…
Website ini merupakan andalan orang-orang pencinta film yang ingin tahu kapan film favorit mereka diputar di bioskop. Selain film yang sedang diputar, kita juga bisa tahu film yang akan diputar, berita terbaru, dan kuis.
The Last Airbender: Shyamalan did another (not too great) movie again

M. Night Shyamalan pernah sangat terkenal dengan film cerdasnya yang berjudul Sixth Sense. Film yang kemudian idenya “dipinjam” oleh salah satu film Indonesia ini dianggap membawa hawa baru dalam dunia horor. Selanjutnya, film-film Shyamalan mendapat acungan jempol seperti Unbreakable, Signs, dan The Village. Tapi, rupanya keberuntungan tidak selalu menaungi sutradara India yang kerap menjadi cameo di film-filmnya ini. Film Lady in the Water flop di pasaran dan mendapat cercaan para kritikus karena akhir ceritanya yang dianggap konyol. Film Shmayalan berikutnya, The Happening, juga mengalami nasib serupa: rugi dan dicerca. Di tahun 2010 ini, Shmayalan mencoba bangkit dengan menyutradarai film yang paling ditunggu anak-anak seluruh dunia: The Last Airbender.
The Last Airbender mengambil jalan cerita musim pertama serial kartunnya (Avatar: The Legend of Aang) yang tayang di Nickelodeon. Berkisah tentang perjalanan Aang dan kedua temannya, Sokka dan Katara, untuk mempelajari tiga elemen dasar (bumi, air, dan api) agar dapat melawan Negara Api dan menciptakan kedamaian di seluruh dunia. Aang tahu bahwa tugasnya sebagai seorang Avatar (pembawa kedamaian) tidak mudah. Banyak tantangan dan hambatan yang harus ia lewati. Apakah ia berhasil menguasai tiga elemen tersebut dan menghancurkan ambisi Negara Api untuk menguasai tiga negara lainnya?
Ketika pengumuman bahwa live action dari Avatar akan dibuat, pertanyaan pertama yang muncul adalah: siapakah yang akan menjadi Aang? Tokoh ini begitu ceria dan jenaka. Sanggupkah aktor yang akan memerankannya nanti membawa keceriaan dan kejenakaan Aang ke dalam layar lebar? Shmayalan akhirnya memilih Noah Ringer, seorang penyandang sabuk hitam taekwondo. Jadi, jangan heran kalau kita melihat gerakan Aang yang luwes. Itu adalah kemampuan Noah Ringer dalam ber-martial arts.

Aktor dan aktris lain tidak terlalu terkenal, paling yang bikin kita ngeh hanya pemeran Sokka, yaitu Jackson Rathbone. Siapa dia? Oke, satu nama. Jasper Cullen. Yap, dialah pemeran vampir pendiam tersebut dalam tiga installment Twilight Saga. Berikutnya adalah Dev Patel. Dialah pemeran si pemuda miskin, Jamal Malik, dalam Slumdog Millionaire. Sisa lainnya mungkin hanya samar-samar terlintas dalam benak kita, “Eh, ini kayaknya pernah main deh. Di mana ya?”
Sayangnya, hype yang sudah muncul sejak berbulan-bulan yang lalu tidak dibarengi dengan kualitas yang baik dari filmnya. Yang cukup terasa adalah alur filmnya yang cenderung lebih gelap dibandingkan serial kartunnya. Selain itu, akting Noah Ringer masih terasa sedikit kaku. Mungkin karena jam terbangnya yang belum terlalu tinggi. Karena saya bukan penggemar Avatar, bahkan bisa dibilang nggak pernah nonton, makanya untuk masalah cerita, saya tidak bisa berkomentar banyak. Hanya sebagai penonton awam yang buta dunia Avatar, penjelasan Shyamalan cukup bisa dimengerti. Efeknya pun bisa dikatakan bagus karena dilakukan oleh Industrial Light and Magic yang juga bertanggung jawab dalam film-film seperti Indiana Jones, Transformers, Star Wars, dan Terminator.
Pada saat mengerjakan film ini, Shmayalan bahkan sudah punya bayangan dua sekuel lanjutannya yang akan mengambil Azula sebagai tokoh antagonisnya. Menurut Shyamalan, film kedua akan lebih gelap sementara film ketiga akan lebih ambigu (ambiguous).
Film The Last Airbender ini tidak dapat dikatakan buruk, tetapi juga tidak cukup baik bagi para penikmat film dunia. Terbukti dengan ratingnya di Rotten Tomatoes yang cukup rendah, yaitu 2.8/10. Pendapatan box office-nya pun tidak terlalu mencengangkan meskipun cukup tinggi. Dalam waktu lima hari, film ini sudah meraup 70,5 juta dolar. Tapi, bisa dikatakan angka ini masih jauh dari balik modal karena Shyamalan membuat film ini dengan bujet 150 juta dolar (plus 130 juta dolar untuk promosi). Kita lihat saja bisakah The Last Airbender balik modal yang akan menentukan apakah sekuelnya akan dibuat atau tidak.
Oh, last but not least. Kalau kalian terpikir untuk nonton film ini 3D, lupakan saja. Simpan uang kalian untuk hal yang lebih berguna. Efeknya sama saja. Tidak ada bedanya dengan 2D.
Regards…
The Expendables: Lots of Action More Than You Can Expect!

Dalam kurun waktu 1980-an akhir hingga 1990-an, bermunculan bintang-bintang berotot yang menguasai dunia perfilman Hollywood. Sebut saja: Arnold Schwarzenegger, Jean Claude Van Damme, Bruce Willis, Sylvester Stallone, Dolph Lundgren, Michael Dudikoff, Chuck Norris, dan Stephen Seagal. Mereka inilah yang menguasai film-film aksi pada masa itu. Bila ada film pukul-pukulan, tembak-tembakan, atau tendang-tendangan dapat dipastikan salah satu (bahkan salah dua) nama menjadi pemeran utamanya. Setelah masa kejayaan mereka berakhir, bermunculan generasi berikutnya, yaitu Jason Statham, Jet Li, Matt Damon, Pierce Brosnan, dan Daniel Craig. Bahkan, bila kehabisan aktor, para produser dengan senang hati mencomot para pegulat dari WWE dan WWF, seperti Steve Austin, John Cena, dan Dwayne Johnson (The Rock).
Beberapa orang kemudian bermimpi untuk melihat semua jagoan itu beraksi dalam satu film. Isn’t that great? Pada akhirnya, aktor sekaligus sutradara, Sylvester Stallone, menjawab mimpi itu dengan menghadirkan sebuah film aksi-laga yang dapat dipastikan ditunggu-tunggu oleh seluruh orang di dunia: The Expendables.
Kisahnya sendiri sederhana, bila tidak ingin disebut plot film kelas B (direct to video or television). Dikisahkan sekelompok mercenaries (tentara bayaran) bernama The Expendables diberi tugas untuk menggulingkan pemerintahan seorang jenderal diktator dan sekutunya di sebuah pulau bernama Vilena. Awalnya, Barney (Stallone) sebagai pemimpin kelompok ini menganggap bahwa pekerjaan ini mustahil setelah dia dan Christmast (Statham) melakukan survei terlebih dahulu. Akan tetapi, karena sebuah nasihat dari temannya, Tool (Rourke), Barney memutuskan untuk kembali ke pulau tersebut dan menyelamatkan putri jenderal.

Dengan bujet sebesar 82 juta dolar, Stallone berhasil mengumpulkan aktor-aktor laga ternama dalam satu film. Sebut saja, dirinya sendiri, Jason Statham, Jet Li, Terry Crews, Dolph Lundgren, Randy Couture, Steve Austin, Eric Roberts, dan Mickey Rourke. Belum lagi cameo dari kedua teman bisnis Stallone (Planet Hollywood, anyone?), yaitu Bruce Willis dan Arnold Schwarzenegger. Ke mana Jean Claude Van Damme? Dia menolak untuk ambil bagian dalam film ini karena menganggap perannya kurang penting. Selain itu, beberapa orang yang menunggu penampilan Chuck Norris, Steven Seagal, atau The Rock mungkin harus kecewa karena mereka tidak muncul. Well, semoga di The Expendables 2, Stallone dapat menggaet bintang-bintang tersebut.
Surprisingly, this movie better than The Last Airbender. Sorry to say, but it’s true. Semua yang kita harapkan akan muncul dalam film ini benar-benar diwujudkan oleh Stallone. Ia berhasil menampilkan porsi laga yang cukup banyak, adegan ledakan yang fantastis, dan humor yang memancing tawa. Siapa yang tidak tertawa ketika di tengah-tengah penyerangan terdengar bunyi sms atau pada saat Jet Li di-bully karena tubuhnya yang lebih pendek dibanding yang lain. Belum lagi melihat perut buncit Mickey Rourke yang diumbar atau sulitnya Stallone lari mengejar pesawat karena bobot tubuh dan umurnya sudah tidak mengizinkannya. Selain itu, blood and gore are everywhere. Mungkin, bagi yang tidak tahan akan sedikit mual. Tapi, tenang saja. Kekerasan yang cukup eksplisit dalam film ini hanya diperlihatkan dalam scene-scene yang cepat dan tidak terlalu jelas.

Sayangnya, karena terlalu fokus pada adegan aksi dan ledakan, Stallone kurang menaruh perhatian lebih pada dialog. Terdapat beberapa dialog yang corny dan lebih baik dihilangkan karena tidak ada esensinya sama sekali. What about plot? well, nikmati saja filmnya dan jangan banyak bertanya tentang plot. Kredit lebih perlu kita layangkan pada Mickey Rourke yang berhasil menampilkan akting nan apik, lebih dari Stallone sendiri malah. Meskipun tidak ada adegan aksi yang melibatkannya, tapi bisa dikatakan Rourke menjadi scene stealler dalam film ini. Sejak kebangkitannya dalam The Wrestler dan akting menariknya dalam Iron Man 2, Rourke kembali tidak mengecewakan penggemarnya.
Applause yang perlu ditambahkan dalam film ini adalah Stallone tidak memaksakan diri untuk memasukkan adegan kissing antara dirinya dengan pemeran utama wanita. Bayangkan saja bila adegan itu ada! Seperti melihat seorang paman yang mencium keponakannya sendiri. Saya (dan seorang teman ketika membahas film ini) bersyukur karena Stallone mengerti bahwa penonton tidak ingin melihat dirinya melakukan hal yang “tidak pantas” tersebut.
Jadi, kalau mau menikmati sekumpulan bintang laga dengan aksi yang memikat dan tidak perlu banyak berpikir, The Expendables adalah jawabannya.
Regards…